Jangan Angkat Telpon dari Nomor Ini, Penipuan Modus Bea Cukai!

  • Whatsapp

Modus kedua, Lelang Palsu. Pelaku menyebarkan informasi lelang dari Bea Cukai melalui Facebook atau grup Whatsapp dan SMS. Pelaku berdalih bahwa lelang bersifat tertutup tapi resmi. Kemudian pelaku meminta para korban yang mau ikut lelang harus mentransfer sejumlah uang ke rekening si pelaku.

Perlu di ingat, lelang resmi dari Bea Cukai selalu bersifat terbuka dan bisa melihat informasi dari website resmi Bea Cukai.

Read More

Modus ketiga, pelaku melakukan pendekatan kepada si calon korban selama berbulan-bulan hingga terjalin kisah asrama (pacaran/selingkuhan/TTM/sejenis nya). Karena si korban sudah merasa percaya kepada si pelaku, situasi ini dimanfaatkan oleh pelaku. Pelaku berpura-pura mengirimkan hadiah ke pada si korban dari luar negeri. Tiba-tiba, oknum lain/teman si pelaku menelpon si korban dan mengaku sebagai pihak Bea Cukai. Mereka mengatakan bahwa kiriman paket tertahan di Bea Cukai karena suatu hal. Akhirnya, si korban dipaksa untuk mentransfer sejumlah uang ke pada si pelaku. Penipuan ini paling banyak memakan korban pihak perempuan.

Perlu diingat, jangan terlalu cepat percaya kepada seseorang yang kenal melalui Facebook atau Instagram. Apalagi hingga menjalin hubungan asmara secara online. Tetap berhati-hati kalau ada penelpon yang mengaku dari pihak Bea Cukai. Apabila Anda membeli barang dari luar negeri maka proses Bea Cukai di urus oleh penjual atau vendor seperti pihak Tokopedia/Bukalapak/lainnya. Proses Bea Cukai tidak diurus oleh pembeli atau konsumen.

Modus keempat, Pelaku berpura-pura tertahan di Cengkareng karena membawa banyak uang cash. Awalnya si pelaku berkenalan dengan si korban melalui media sosial. Pelaku mulai menjalan hubungan akrab dengan si korban. Suatu saat, si pelaku berpura-pura ingin mengunjungi si korban. Kemudian beberapa hari selanjutnya, si korban di telpon pelaku. Pelaku mengatakan dia ditahan karena membawa banyak uang cash dan semua barangnya disita. Si pelaku menyuruh korban transfer uang untuk menyelamatkan nya. Untuk melancarkan aksi, pelaku berdalih dia sedang disekap. Selain itu, keberadaan nya di katakan di kota yang jauh dari si korban. Sehingga si korban tidak dapat menjemput atau memastikan keberadaan si pelaku.

Modus kelima, pelaku mengaku sebagai diplomat yang mengirim barang/paket diplomatik. Pelaku mengatakan paket tersebut tertahan di Bea Cukai. Bahkan, pelaku membuat website tracking replika, sehingga seolah-olah paket tersebut benar tertahan di Bea Cukai.

Perlu diingat, paket diplomatik relatif tidak diperiksa oleh Bea Cukai.

Modus keenam, pelaku membuka jasa penyelesaian barang yang disita di Bea Cukai. Pelaku menawarkan jasa untuk meloloskan barang yang disita oleh Bea Cukai. Selanjutnya, korban diminta transfer uang ke rekening pelaku. Namun setelah itu, barang si korban tidak kunjung lolos atau selesai di Bea Cukai.

Modus ketujuh, pelaku mengaku dari pihak Bea Cukai. Pelaku mengaku bahwa dapat aduan dari masyarakat bahwa si korban telah membeli barang black market. Pelaku mengancam si korban akan di tangkap. Pelaku meminta uang agar si pelaku tidak ditangkap. Biasanya si pelaku terus menerus meneror korban, terutama jika korban tidak memblokir nomor si pelaku.

INGAT!

  • Kenali rekening yang akan ditransfer uang. Segala urusan Bea Cukai, pembayaran melalui rekening penerimaan negara menggunakan dokumen SSPCP (surat setoran pabean, cukai dan pajak) . Bea Cukai tidak menggunakan rekening pribadi.
  • Tutup segera telepon dari nomor baru yang topik pembicaraan nya tentang Bea Cukai. Terutama di saat Anda tidak sedang mengirim barang atau memiliki kasus di Bea Cukai.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.