Tiga Ambulans Kena Orderan Fiktif, Warganet Kaitkan Aksi dengan Oknum Debt Collector INDODANA

Tiga Ambulans Kena Orderan Fiktif, Warganet Kaitkan Aksi dengan Oknum Debt Collector INDODANA
()

Orderan fiktif ambulans di Semarang menjadi sorotan publik setelah tiga unit ambulans dan satu mobil pikap layanan logistik mendatangi sebuah alamat yang ternyata tidak pernah melakukan pemesanan. Peristiwa ini viral di media sosial dan memicu kemarahan warganet karena dinilai mengganggu layanan kemanusiaan. Sejumlah netizen bahkan mengaitkan aksi tersebut dengan dugaan teror dari oknum debt collector pinjaman online, termasuk menyebut nama INDODANA.

Video kejadian tersebut pertama kali beredar melalui akun Instagram @informasi.semarang dan TikTok @panduga.id. Dalam rekaman itu tampak tiga ambulans terparkir berjajar di kawasan permukiman di Kecamatan Semarang Barat, Jawa Tengah, bersama satu unit mobil pikap Lalamove. Unggahan tersebut menyebutkan bahwa kendaraan-kendaraan itu datang akibat orderan fiktif.


Orderan Fiktif Ambulans di Semarang Viral di Media Sosial

Unggahan akun @informasi.semarang menyebutkan bahwa orderan fiktif tersebut diduga dilakukan oleh oknum debt collector pinjaman online. Narasi itu dengan cepat menyebar dan menuai beragam reaksi, mulai dari keprihatinan hingga kemarahan publik.

โ€œSebuah video beredar bahwa adanya orderan fiktif yang di alami 3 unit Ambulance dan 1 pick up Lalamove yang dilakukan oleh Oknum Cillector dari Pinjaman Online,โ€ tulis akun tersebut, Selasa (3/2/2026).

Banyak warganet menilai aksi semacam ini sebagai bentuk teror yang tidak berperikemanusiaan karena menyasar layanan darurat yang seharusnya digunakan untuk menyelamatkan nyawa.


Kronologi Orderan Fiktif yang Menimpa Tiga Ambulans

Salah satu admin Ambulans Antasena, Aldy (25), membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 13.00 WIB.

Pemesanan Mengatasnamakan Pasien Kontrol

Menurut Aldy, pemesanan ambulans diterima dari seseorang bernama Adi Prasetya. Pemesan mengaku membutuhkan ambulans untuk mengantar pasien kontrol dari Jalan Puspowarno menuju Rumah Sakit Columbia Asia.

โ€œJadi, tadi penelepon atas nama Adi Prasetya. Dia membutuhkan ambulans untuk pengantaran pasien kontrol dari Jalan Puspowarno ke Rumah Sakit Columbia Asia,โ€ kata Aldy saat dihubungi.

Pemesan bahkan mengirimkan data pasien secara lengkap, termasuk nama penanggung jawab dan alamat rumah.

Alamat dan Nomor Telepon Diduga Palsu

Aldy menambahkan, alamat dikirimkan melalui fitur berbagi lokasi WhatsApp. Karena data terlihat meyakinkan, tim ambulans langsung berangkat ke lokasi.

Namun setibanya di tempat tujuan, tidak ada seorang pun yang memesan ambulans. Nomor telepon pemesan pun tidak bisa dihubungi secara jelas.

โ€œTerus sampai di TKP, sampai di rumah yang di-shareloc, ternyata nggak ada yang pesan ambulans. Dan nomor yang tadi menghubungi ditelepon itu jawabannya itu kakak saya,โ€ ungkap Aldy.

Pemilik rumah akhirnya keluar dan menegaskan bahwa pesanan tersebut fiktif. Bahkan, sehari sebelumnya, rumah itu juga didatangi beberapa kendaraan Lalamove dengan modus serupa.


Dugaan Keterkaitan dengan Oknum Debt Collector INDODANA

Di media sosial, sejumlah warganet mengaitkan pola orderan fiktif ini dengan praktik penagihan pinjaman online. Nama INDODANA ikut disebut-sebut, meskipun hingga kini belum ada pernyataan resmi yang membuktikan keterlibatan langsung perusahaan tersebut.

Penyebutan nama pinjaman online itu lebih banyak muncul dari pengalaman warganet yang mengaku pernah mengalami teror serupa, seperti pengiriman layanan palsu ke alamat rumah.

Hingga berita ini ditulis, belum ada klarifikasi resmi dari pihak INDODANA terkait dugaan tersebut. Namun publik mendesak agar aparat penegak hukum menelusuri motif dan pelaku di balik aksi orderan fiktif ini.


Korban dan Warga Mengaku Resah

Aksi orderan fiktif ini bukan hanya merugikan penyedia ambulans, tetapi juga membuat warga resah. Pemilik rumah yang didatangi berulang kali mengaku kaget dan terganggu, apalagi kendaraan yang datang bukan hanya ambulans, tetapi juga jasa logistik.

Di sisi lain, pihak ambulans menyebut kejadian ini membuang waktu, tenaga, dan berpotensi menghambat pelayanan bagi pasien yang benar-benar membutuhkan bantuan darurat.


Respons Publik dan Desakan Penindakan

Kasus orderan fiktif ambulans di Semarang memantik diskusi luas soal etika penagihan pinjaman online. Banyak pihak menilai tindakan semacam ini sudah masuk kategori teror dan harus diproses secara hukum.

Warganet mendesak aparat kepolisian untuk menindak tegas pelaku, sekaligus meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperketat pengawasan terhadap praktik penagihan pinjol.


Pentingnya Perlindungan Layanan Darurat dari Teror Pinjol

Pengamat menilai layanan ambulans dan fasilitas darurat seharusnya dilindungi secara hukum dari segala bentuk penyalahgunaan. Orderan fiktif tidak hanya merugikan secara materi, tetapi juga berpotensi membahayakan nyawa orang lain.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa praktik penagihan yang tidak manusiawi, jika benar terjadi, harus dihentikan. Negara dituntut hadir untuk melindungi masyarakat, termasuk relawan dan petugas layanan darurat, dari intimidasi berkedok penagihan utang.

Video :
https://www.youtube.com/shorts/fLDb6XLEOvk

https://www.instagram.com/p/DUScxNID8d2

@panduga.id

Viral aksi orderan fiktif yang diterima tiga ambulans di Kota Semarang, Jawa Tengah. Aksi itu diduga dilakukan oleh debt collector pinjaman online (pinjol). Video itu viral usai diunggah akun @informasi.semarang. Tampak tiga unit ambulans dan satu mobil pikap Lalamove yang berada di sepanjang jalan perumahan di Kecamatan Semarang Barat. “Sebuah video beredar bahwa adanya orderan fiktif yang di alami 3 unit Ambulance dan 1 pick up Lalamove yang dilakukan oleh Oknum Cillector dari Pinjaman Online,” tulis akun @informasi.semarang, Selasa (3/2/2026). Salah satu Admin Ambulans Antasena, Aldy (25), membenarkan kejadian tersebut. Peristiwa itu terjadi hari ini sekitar pukul 13.00 WIB. Ia mengatakan order diterima dari seseorang bernama Adi Prasetya. “Jadi, tadi penelepon atas nama Adi Prasetya. Dia membutuhkan ambulans untuk pengantaran pasien kontrol dari Jalan Puspowarno ke Rumah Sakit Columbia Asia,” kata Aldy saat dihubungi Ia mengatakan pemesan mengirim data pasien lengkap, nama pemilik rumah, dan penanggung jawab. Alamat pun dikirimkan melalui fitur bagikan lokasi di WhatsApp sehingga pihaknya langsung bergegas berangkat menggunakan ambulans. “Terus sampai di TKP, sampai di rumah yang di-shareloc, ternyata nggak ada yang pesan ambulans. Dan nomor yang tadi menghubungi ditelepon itu jawabannya itu kakak saya,” ungkapnya. Akhirnya pemilik rumah pun keluar dan mengatakan pesanan ambulans itu merupakan pesanan fiktif. Bahkan sehari sebelumnya, rumahnya juga didatangi sejumlah mobil Lalamove.

โ™ฌ original sound – PANDUGA.ID – PANDUGA.ID

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

Bagikan Artikel ini Ke media sosial Anda :