Megah dan penuh makna, Masjid Raya Baitul Khairaat berdiri kokoh di jantung Kota Palu, Sulawesi Tengah. Lebih dari sekadar bangunan ibadah, masjid ini merupakan simbol keteguhan dan kebangkitan masyarakat Sulawesi Tengah setelah tragedi gempa bumi dahsyat 7,7 SR pada 28 September 2018 yang menghancurkan Masjid Agung Darussalam yang berdiri di lokasi yang sama.
Setelah melalui perjalanan panjang sejak 2020, Masjid Raya Baitul Khairaat resmi diresmikan pada 4 Desember 2025 oleh Gubernur Sulawesi Tengah Dr. H. Anwar Hafid, M.Si, dalam sebuah momen bersejarah yang dihadiri ribuan jamaah dan tiga generasi Gubernur Sulteng.
Awal Mula: Masjid Agung Darussalam
Sebelum menjadi Masjid Raya Baitul Khairaat, di lokasi yang sama berdiri Masjid Agung Darussalam yang peletakan batu pertamanya dilakukan pada tahun 1978 oleh Gubernur Tambunan dan selesai sekitar tahun 2000. Masjid bersejarah ini menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Palu selama puluhan tahun.
Bencana Gempa 2018
Pada 28 September 2018, gempa berkekuatan 7,7 SR yang disertai tsunami dan likuefaksi mengguncang Palu dan sekitarnya. Bencana dahsyat ini menghancurkan berbagai infrastruktur, termasuk Masjid Agung Darussalam yang mengalami kerusakan parah. Kehancuran masjid ini meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Sulawesi Tengah yang kehilangan tempat ibadah utama mereka.
Inisiasi Pembangunan Kembali
Pembangunan Masjid Raya Baitul Khairaat merupakan harapan seluruh masyarakat Kota Palu setelah bencana 2018. Proses dimulai dengan:
- 2020: Pelaksanaan sayembara desain bangunan masjid
- 2021: Perancangan dan penetapan desain pemenang sayembara
- 2022: Detail Engineering Design (DED)
- 20 Oktober 2023: Penandatanganan surat perjanjian (kontrak) pembangunan fisik
- 15 November 2025: Target penyelesaian konstruksi
- 4 Desember 2025: Peresmian resmi masjid
Peresmian Nama dan Makna “Baitul Khairaat”
Sebelum peresmian masjid secara keseluruhan, Gubernur Rusdy Mastura terlebih dahulu meresmikan nama masjid pada 7 Februari 2025. Nama “Baitul Khairaat” yang berasal dari bahasa Arab berarti “Rumah Kebaikan”, melambangkan semangat kebersamaan, keberagaman, dan penghormatan terhadap nilai-nilai agama yang universal.
Perubahan nama dari Masjid Agung Darussalam menjadi Masjid Raya Baitul Khairaat menandakan babak baru dalam sejarah keagamaan Sulawesi Tengah. Nama ini diharapkan menjadi simbol kemajuan dan kedamaian bagi umat Islam dan seluruh masyarakat Sulawesi Tengah.
Peresmian Bersejarah: Momen Tiga Generasi Gubernur
Peresmian Masjid Raya Baitul Khairaat pada 4 Desember 2025 menjadi momen bersejarah yang langka. Gubernur Anwar Hafid memimpin langsung rangkaian peresmian, didampingi oleh Gubernur periode 2016-2021 Longki Djanggola dan Gubernur periode 2021-2025 Rusdy Mastura. Kehadiran tiga gubernur lintas periode ini menunjukkan kesinambungan kepemimpinan dan komitmen bersama dalam membangun rumah ibadah yang megah ini.
Acara peresmian yang berlangsung khidmat ini ditandai dengan penandatanganan prasasti dan disaksikan oleh ribuan jamaah yang memadati kompleks masjid. Ustadz Abdul Somad turut hadir dan memberikan tausiah dalam tabligh akbar yang digelar setelah prosesi peresmian. Ustadz Abdul Somad menyebut momen ini sebagai kejadian langka yang mencerminkan kedewasaan politik dan kekuatan persatuan daerah.
Berita Lainnya:
- Touring Vespa:Berkelana dengan pengalaman
- Wisata Batu Alam
- Wisata Batu Alam
- Buu Oge 650 Mdpl: Pesona Savana Alami yang Tersembunyi di Kabupaten Sigi
- Pulau papan, salah satu desa wisata pada Taman Nasional Kepulauan Togean. Sulawesi Tengah
- Keindahan Morowali dari Puncak Gunung Konde Fafontumundu
Dalam sambutannya, Gubernur Anwar Hafid menyampaikan bahwa kehadiran Masjid Raya Baitul Khairaat merupakan buah dari kerja panjang para pemimpin daerah sebelumnya. Ia menegaskan bahwa pembangunan masjid senilai Rp375-376 miliar ini sepenuhnya merupakan hasil kontribusi rakyat melalui pajak daerah, sehingga masjid ini adalah milik seluruh masyarakat Sulawesi Tengah.

Spesifikasi Teknis dan Arsitektur
Dimensi dan Kapasitas
Masjid Raya Baitul Khairaat dibangun di atas lahan seluas 4 hektare di Jalan Jaelangkara, Kelurahan Baru, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu. Kapasitas masjid mencapai:
- 10.000 jamaah di dalam bangunan (8.000 jamaah laki-laki di lantai 1 dan 2.000 jamaah perempuan di lantai 2)
- 25.000-30.000 jamaah total jika termasuk area pelataran
- Beberapa sumber menyebutkan kapasitas hingga 15.000 jamaah
Elemen Arsitektur Utama
- Kubah Utama: Diameter 90 meter, kubah tunggal terbesar di Indonesia tanpa pilar tengah
- Menara Kembar: Setinggi 66,66 meter, melambangkan 6.666 tema ayat dalam Al-Qur’an, sekaligus menjadi menara kembar tertinggi di Sulawesi Tengah
- Jam Analog Raksasa: Diameter 19,3 meter, terbesar di Indonesia dan kelima terbesar di dunia
- Tinggi Bangunan Utama: 30 meter, merefleksikan jumlah juz dalam Al-Qur’an
- 99 Jendela: Melambangkan Asmaul Husna (99 nama Allah yang indah)

Pesan dan Harapan
Gubernur Anwar Hafid mengutip janji Allah SWT tentang jaminan bagi umat yang memakmurkan rumah-Nya, yaitu menghilangkan rasa lapar dan rasa takut. Ia menyatakan, “Malam ini, kita menjemput janji itu.”
Gubernur berharap Masjid Raya Baitul Khairaat menjadi:
- Pintu keberkahan bagi seluruh masyarakat Sulawesi Tengah
- Aset berharga yang memberikan manfaat spiritual, sosial, dan budaya
- Simbol yang memperkokoh tali persaudaraan antarumat beragama
- Pusat yang terus dimakmurkan dengan berbagai aktivitas ibadah dan sosial
- Rumah kebaikan untuk memohon ampunan Allah dan membawa keberkahan
Rusdy Mastura dalam peresmian nama masjid juga mengajak seluruh umat Islam di Sulawesi Tengah untuk terus memakmurkan masjid dengan berbagai kegiatan ibadah dan sosial, meningkatkan kajian ilmu, mempererat aktivitas sosial, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah.





