Di Sulawesi Tengah, tepatnya di Desa Salubay, Kabupaten Donggala, ada sebuah kebun stroberi yang mengawali usaha sejak tahun 2008 dan kemudian dibuka sebagai agrowisata pada tahun 2017. Lokasi ini dulu hanyalah sebuah bukit rumput biasa, namun kini telah berubah menjadi kebun stroberi seluas lebih dari satu hektar dengan ribuan pohon siap panen setiap hari.
Kebun tersebut tidak hanya menarik bagi warga sekitar, tetapi juga mendapat kunjungan dari masyarakat berbagai daerah — termasuk dari kota seperti Palu, dan kabupaten lain di Sulawesi Tengah.
Karena potensi yang besar ini, tidak heran jika kebun stroberi semacam ini banyak dipilih sebagai lokasi wisata alam/agrowisata — tempat untuk menikmati alam, belajar pertanian secara langsung, dan memetik buah segar. Konteks ini membuat pengalaman saya ketika berkunjung ke kebun stroberi terasa lebih bermakna: bukan hanya wisata biasa, tetapi juga bagian dari gerakan agrowisata lokal yang mendukung petani dan mempromosikan buah lokal.
.jpeg)
Saat pertama masuk, suasana kebun terasa sangat sejuk karena berada di kawasan perbukitan. Barisan tanaman stroberi tertata rapi menggunakan plastik mulsa, sehingga kebun terlihat bersih dan teratur. Pengunjung juga diperbolehkan turun langsung ke area tanam untuk mengamati kondisi tanaman dari dekat.Melihat barisan stroberi yang tumbuh subur membuat saya semakin penasaran untuk mengetahui kualitas buahnya. Selain itu, pengunjung dapat berjalan bebas di antara jalur tanam sehingga pengalaman belajar terasa lebih nyata.
Bagian yang paling ditunggu tentu saja adalah memetik stroberi. Pengunjung dapat memilih buah yang sudah matang berdasarkan warna merah cerahnya. Buah yang matang memiliki tekstur lebih lembut dan aroma yang lebih kuat.Disini karena saya perginya telat dan sudah di dahului orang-orang jadi hanya mendapatnya sisahnya, tapi jangan salah masih banyak buahnya yang tersembunyi.
Hasil petikan hari itu cukup bervariasi. Ada yang ukurannya besar, ada juga yang kecil namun warnanya merata. Semua buah tampak segar dan layak konsumsi. Aktivitas memetik ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga memberi pengalaman tentang bagaimana menentukan kualitas buah dari tampilannya.

Setiap tempat biasanya memiliki aturan sendiri. Di kebun ini, pengunjung dikenakan tarif masuk sebesar Rp5.000 per orang. Selain itu, ada dua kategori biaya lain:
- Makan buah langsung di kebun: Rp2.000 per buah
- Membawa pulang stroberi: Rp15.000 per 100 gram
.jpeg)
Informasi harga ini sangat membantu sehingga pengunjung bisa menentukan apakah ingin makan di tempat atau membawa pulang buah sebagai oleh-oleh. Perjalanan singkat ini membuat saya menyadari bahwa agrowisata bukan hanya tempat foto-foto atau memetik buah. Ada kerja keras petani di balik setiap barisan tanaman yang rapi. Ada proses panjang mulai dari menyiapkan tanah, merawat tanaman, hingga menjaga kualitas buah.
Melihat langsung bagaimana kebun ditata membuat saya semakin menghargai produk pertanian lokal. Selain menjadi tempat rekreasi, kebun seperti ini dapat membantu petani meningkatkan pendapatan, menarik kunjungan wisata, dan memperkenalkan pertanian kepada masyarakat lebih luas.







Tinggalkan Balasan